Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi, Kapankah Berhenti?

Detik Time

- Redaktur

Selasa, 19 Desember 2023 - 02:05 WIB

3083 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Sitti Kamariah

(Pemerhati Masalah Sosial)

 

Kasus tindakan asusila yang menimpa seorang mahasiswi Universitas Mulawarman (Unmul) Kota Samarinda kembali terungkap ke muka publik. Dari Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Unmul, diketahui tindak pidana persetubuhan terhadap anak ini dilakukan oleh seorang pemuda berinisial K yang mengaku sebagai seorang mahasiswa di Kota Tepian ini.

 

Orin Gusta Andini selaku Koordinator Advokasi Satgas PPKS Unmul menjelaskan bahwa kasus ini terungkap pada tanggal 12 September 2023. Melalui peristiwa ini Orin mengatakan bahwa Satgas PPKS Unmul mendorong setiap civitas akademika Unmul baik itu mahasiswa, tenaga pendidik maupun dosen yang melihat, mendengar dan atau menyaksikan kasus kekerasan seksual yang melibatkan Civitas Akademik Universitas Mulawarman untuk melapor kepada SATGAS PPKS UNMUL. (www.kaltim.tribunnews.com, 27/11/2023)

 

Untuk kesekian kalinya, kasus kekerasaan seksual terjadi pada lingkungan kampus. Kampus perguruan tinggi yang notabene merupakan lingkungan orang-orang berpendidikan yang lebih dari standar wajib, ternyata tak menjamin membentuk pribadi bermoral yang mampu menjaga dirinya dari tindakan asusila atau kekerasan seksual. Berdasarkan  survei Kemendikbudristek per Juli 2023 menunjukkan, kekerasan seksual terbanyak terjadi di perguruan tinggi yaitu sebanyak 65 kasus. Sementara angka kekerasan seksual di sekolah menengah 22 kasus, dan sekolah dasar 28 kasus.

 

Maraknya kasus kekerasan seksual pada lingkungan perguruan tinggi yang dilakukan oleh mahasiswa, dosen, pegawai bahkan pejabat kampus, maka Mendikbud Nadiem Makarim mengeluarkan Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS). Sejalan dengan kebijakan ini, maka setiap kampus membentuk Satgas PPKS.

 

Negara tampak memiliki keinginan untuk menyelesaikan kasus kekerasan seksual, namun dari sisi lain disadari atau tidak negara membuka jalan terjadinya kejahatan ini. Contohnya, membuat UU TPKS yang secara implisit melegalisasikan perzinaan. Negara hanya melarang kekerasan seksual tapi membolehkan seks bebas apabila tanpa paksaan.

 

Berbagai upaya pemerintah untuk mencegah dan menangani kasus kekerasaan seksual khususnya pada perguruan tinggi, yaitu dengan membentuk Satgas (Satuan Tugas), memberikan hukuman sosial kode etik maupun membuat kebijakan dalam Undang-Undang. Namun, tampaknya berbagai upaya ini tidak pernah berhasil menekan kasus kekerasan seksual, yang terjadi adalah terus melonjaknya kasus semacam ini dan kasus-kasus bawaan akibat dari kekerasan seksual seperti aborsi, bunuh diri, pembunuhan dan lainnya.

 

Upaya penyelesaian kekerasan seksual yang diberikan saat ini hanya penyelesaian pada bagian permukaan saja tidak menyentuh akar masalah, sehingga kasus masih terus tumbuh subur. Padahal akar masalahnya adalah akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme oleh negara dalam kehidupan. Sistem ini pula melahirkan paham liberalisme atas nama HAM, sehingga banyak individu liberal yang berbuat kebebasan dan berujung kebablasan.

 

Sistem sekuler kapitalisme menjauhkan manusia dari aturan agama (Islam khususnya) dan fokus pada keuntungan materi tanpa pandang halal-haram. Sistem ini tentu tidak mengatur pergaulan wanita dan pria. Sistem ini  justru mengincar cuan dari berbagai hal pendukung pergaulan bebas, seperti minuman keras, club malam, film dewasa dan masih banyak lainnya.

Baca Juga :  Pemenuhan Fasilitas Pendidikan Dalam Sistem Islam

 

Kehidupan saat ini yang sekuler liberal memberikan rangsangan besar bagi masyarakat untuk melakukan kekerasan seksual. Bagaimana tidak, media  secara bebas mempertontonkan pornografi dan pornoaksi. Banyaknya tontonan yang mempraktikkan aksi pacaran. Seringkali aksi pacaran ini berakhir dengan zina.  Link akses internet terhadap tayangan  kekerasan dan pornografi pun masih mudah ditembus. Selain itu, berdalih atas nama HAM, membiarkan seseorang berpakaian yang mengumbar aurat sehingga mengundang syahwat bagi yang melihatnya. Pembiaran dan memfasilitasi orang-orang bukan mahram untuk bercampur baur, berduaan,  bahkan berzina.

 

Orang-orang dalam lingkup perguruan tinggi lebih berpotensi melakukan liberalisme sebab secara umur telah dianggap dewasa, sehingga merasa bebas untuk melakukan apapun untuk dirinya sendiri. Maka, praktik liberalisme lebih banyak dilakukan oleh orang dewasa sehingga dampak buruk dari liberalisme pun banyak dialami oleh orang dewasa. Oleh karena itu, kasus kekerasan seksual lebih banyak terjadi pada usia dewasa awal dimana pada masa muda ini nafsu sedang memuncak.

 

Dengan demikian, kekerasan seksual pada Perguruan Tinggi tidak akan berhenti apabila kita masih dalam cengkraman sistem sekulerisme-kapitalisme-liberalisme. Ini adalah sistem rusak karena mengandalkan buah pikiran manusia yang penuh hasrat dan nafsu untuk mengatur kehidupan. Sekulerirasi agama dari kehidupan telah melahirkan banyak kesulitan dan penyimpangan.

 

Sekulerisme telah mengubah identitas muslim menjadi identitas yang bertentangan dengan syariat islam,  menyimpang dari fitrah dan menjauhkan dari kebaikan. Umat terus didorong untuk terjerumus dalam peradaban liberalisme. Padahal sudah nyata kerusakan paham liberalisme. Maraknya perzinaan, penularan penyakit kelamin termasuk HIV/AIDS, kehamilan tak diinginkan, pembuangan bayi dan aborsi, adalah bagian dari kerusakan yang sudah tampak di depan mata.

 

Jadi, apakah solusi tuntas memberantas kasus kekerasan seksual? Jawabannya adalah dengan sistem Islam yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan. Syariat islam itu lengkap paripurna mengatur segalanya karena diturunkan oleh Sang Pencipta kehidupan ini yaitu Allah Subhanahu wa ta’ala.

 

Syariat Islam yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala adalah demi kebaikan manusia itu sendiri dan akan sejalan dengan fitrahnya masing-masing, karena Sang Pencipta lebih paham karakteristik setiap ciptaan-Nya.  Melanggar syariat hanya akan mendatangkan kerusakan dan kebinasaan.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman :

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

 

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar Rum : 41)

Baca Juga :  Dewan Pimpinan Cabang (DPC) LAKI Kabupaten Aceh Singkil menon aktifkan beberapa arang anggota laskar anti korupsi ( LAKI) DPC Aceh Singkil

 

Upaya preventif (pencegahan) Islam dalam mengatasi kekerasan seksual adalah dengan adanya perintah menutup aurat bagi pria dan wanita, perintah menjaga pandangan, larangan ikhtilat (bercampur baur pria dan wanita) serta adanya larangan berkhalwat dengan alasan apapun. Karena itu tidak dibenarkan pria dan wanita berduaan di ruang tertutup dan sepi meski untuk alasan bimbingan skripsi, dsb. Nabi saw. bersabda:

 

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يَخْلُوْنَ بِاِمْرَأَةٍ لَيْسَتْ مَعَهَا ذُوْ مَحْرَمٍ مِنْهَا فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

 

Siapa saja yang mengimani Allah dan Hari Akhir hendaknya tidak berkhalwat dengan perempuan bukan mahram karena pihak ketiganya adalah setan (HR al-Bukhari).

 

Sedangkan untuk langkah kuratifnya dalam Islam adalah sistem sanksi yang tegas. Contohnya, untuk pelaku zina yaitu dengan 100 kali cambuk bagi yang belum menikah dan sanksi rajam sampai mati bagi yang sudah menikah (Q.S an-Nur: 2). Tindak kejahatan seksual lain semisal meraba, ujaran kata-kata kotor, merayu, dan sebagainya juga tidak lepas dari sanksi berupa ta’zir, yang akan diputuskan oleh qadhi (hakim) di pengadilan.

 

Oleh karenanya, cara preventif dan kuratif versi Islamlah yang akan menjadi solusi tuntas memberantas kekerasan seksual secara keseluruhan, tidak hanya pada Perguruan Tinggi. Tentu hal ini pun akan tercapai dengan tiga komponen utama yang sejalan menjalankan syariat islam. Pertama, individu keluarga yang takwa. Keluarga yang menanamkan iman islam kepada dirinya dan anak keturunannya sehingga taat pada syariat.

 

Kedua, kontrol masyarkat yang senang amar ma’ruf nahi mungkar yaitu mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Masyarakat yang tumbuh dari Individu-individu keluarga islam akan saling menjaga sesamanya untuk taat syariat, sehingga apabila melihat bibit – bibit kemaksiatan dapat langsung ditegur tidak dibiarkan seperti kondisi sekarang.

 

Ketiga, negara yang menerapkan sistem islam dalam tata kelolanya. Hal ini sangat penting karena negara punya kekuasaan untuk menerapkan hukum dimana para masyarakat harus tunduk dengan segala aturan negara. Maka, dengan tiga komponen tersebut yang sejalan menerapkan syariat Islam, kasus kejahatan seksual bahkan permasalahan lainnya akan tuntas teratasi. Munculnya semua permasalahan ini juga akibat dari pelanggaran syariat yang menyalahi fitrah dirinya.

 

Demikianlah, kita perlu berjuang bersama mengembalikan semua sesuai tempatnya berdasarkan syariat Allah Subhanahu wa ta’ala. Berjuang untuk penerapan Islam kaffah dalam kehidupan. Terus menuntut ilmu islam untuk menambah ketakwaan serta berdakwah mengajak yang lainnya juga untuk tunduk pada syariat. Dengan hadirnya pemerintahan berbasis Islam, maka kebaikan untuk seluruh alam akan terwujud.

 

Wallahu a’lam bishshowab.

 

 

 

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Calon Kepala BIN Harus Mampu Menjawab Tantangan yang Multi Dimensional
Menakar Calon Kepala BIN Usulan Penguasa
Kondisi Kekinian: Surya Paloh, Anies-Imin dan Last Battle
Dewan Pimpinan Cabang (DPC) LAKI Kabupaten Aceh Singkil menon aktifkan beberapa arang anggota laskar anti korupsi ( LAKI) DPC Aceh Singkil
Pemenuhan Fasilitas Pendidikan Dalam Sistem Islam

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juli 2024 - 16:00 WIB

Wujudkan Keakraban, Babinsa Koramil 06/Tripe Jaya Komsos Dengan Masyarakat

Selasa, 2 Juli 2024 - 03:32 WIB

Kapolres Gayo Lues Bersama Forkopimda Musnahkan Barang Bukti Narkotika Jenis Ganja Sebanyak 222 Kg

Senin, 1 Juli 2024 - 22:13 WIB

Kapolres Gayo Lues Pimpin Upacara Hari Bhayangkara Ke-78 Tahun 2024 di Halaman Apel Mapolres Gayo Lues

Senin, 1 Juli 2024 - 20:06 WIB

Kapolres Gayo Lues Berikan Penghargaan Kepada Personel Berprestasi dalam Rangka Hari Bhayangkara Ke-78 Tahun 2024

Minggu, 30 Juni 2024 - 18:40 WIB

Kapolres Gayo Lues Pimpin Upacara Kenaikan Pangkat Personel

Jumat, 28 Juni 2024 - 13:31 WIB

Kodim 0113/Gayo Lues Komsos Dengan Aparat Pemerintah

Jumat, 28 Juni 2024 - 13:06 WIB

Jalin Sinegritas, Anggota Polsek dan Personil Koramil 01/Terangun Gelar Ngopi Bareng

Kamis, 27 Juni 2024 - 19:36 WIB

Terindikasi Kasus Korupsi, FKMP Laporkan Bupati Sambas Ke KPK RI

Berita Terbaru

BANDA ACEH

Fachrul Razi Gagas Majelis Pers Aceh (MPA)

Jumat, 12 Jul 2024 - 13:58 WIB

BANDA ACEH

PT PEMA DAN PEMKOT LANGSA LANJUTI KERJA SAMA PEMANFAATAN KARBON

Kamis, 11 Jul 2024 - 12:03 WIB

DAERAH

Buruan di Serbu !! FUN BIKE “Hadiah Mobil Brio”

Kamis, 11 Jul 2024 - 10:43 WIB